Posted on

Film The Dark Knight Rises, Sebuah Akhir yang Memuaskan

Setelah empat tahun berlalu, The Dark Knight buatan Nolan yang mencengangkan serta masih membekas di hati penonton. Film yang nyaris sempurna dari segi teknik, juga adanya kedalaman cerita berlapis yang tak pernah dicapai sutradara manapun, saat mengadaptasi film dari sebuah komik. Film tersebut bahkan membuat Tim Burton, sutradara film Batman terdahulu, mengakui bahwa film Batman miliknya menjadi sangat “biasa saja”.

The Dark Knight pun jadi standar baru bagi sebuah film hasil adaptasi superhero dari komik. Gaya Nolan yang menyajikan cerita suram berbalut drama menjadi tren. Lihat saja The Avengers dan The Amazing Spider-Man. Keduanya menjadi lebih serius, dengan karakter yang tergali sisi psikologis dan motivasinya. Namun tetap tak sehebat The Dark Knight karya Nolan.

Lalu, sekarang saatnya The Dark Knight Rises tampil, apakah Nolan berhasil melampaui rekor atas dirinya sendiri?

Film The Dark Knight Rises sentuhan Nolan masih memukau dengan gaya khasnya, menyajikan cerita yang suram dan serius dalam adaptasi komik. Kali ini bercerita tentang krisis ekonomi dan sosial di Amerika Serikat. Kisahnya berjalan 8 tahun setelah kematian Jaksa wilayah Harvey Dent. Kematian “White Knight” yang sebenarnya mati sebagai penjahat ini berhasil melahirkan Hukum Dent (Dent Law) yang sukses memenjarakan banyak penjahat di Gotham. Meski demikian, Gotham tetap dihantui oleh koruptor dan warga kaya yang memakan uang rakyat.

Kemudian muncul Bane yang memporak-porandakan pasar bursa. Dia ingin “merampok” bukan secara fisik, namun tujuannya adalah membuat jutawan paling kaya di Gotham Bruce Wayne a.k.a Batman menjadi bangkrut. Caranya menggunakan sidik jari yang didapatkan dari Selina Kyle a.k.a Catwoman. Bane ternyata adalah orang bayaran rival bisnis perusahaan Wayne, yaitu John Dagget, berhasil membuat perusahaan Wayne bangkrut.

Untunglah seorang Filantropis, Miranda Tate mau membantu Wayne meneruskan proyek mesin energi bersih yang dijalankan perusahaannya. Sial, Bane lagi-lagi mau merubah mesin itu menjadi bom berkuatan super dahsyat. Terpaksa akhirnya Batman yang masih trauma muncul dan turun tangan menghadapi Bane.

Pada paruh pertama film ini, yaitu 1,5 jam awal banyak mengenalkan karakter-karakter baru dan aksi mereka. Dengan ritme cepat, sulit mengetahui motif masing-masing karakter. Terutama Bane saat melakukan kejahatan. Apakah dia hanya seorang cecunguk seperti Dagget, apakah balas dendam atau apa? Paruh pertama juga diisi dengan ke”galau”an Wayne dengan hidupnya yang muram. Ia banyak mengurung diri di kamar, sampai Alfred pun memotivasinya agar move-on.

Setelah paruh kedua dimulai, baru asyik menontonnya. Bane akhirnya mengungkapkan motifnya, juga banyak masa lalu Batman dan Bane yang terungkap. Tak ketinggalan aksi “Bat”, pesawat yang mirip Batplane dalam komik. Walau Bane yang merupakan musuh Batman dianggap beberapa pengamat kurang memiliki karakter unik namun film ini tetap layak ditonton. Apalagi terdapat scene unik, yaitu saat Batman beraksi di siang hari, yang jarang ditampilkan di film-film Batman.

Singkatnya walaupun tidak sememukau The Dark Knight, namun sebagai sebuah akhir dari trilogi Batman yang dibuat Nolan, ini adalah akhir yang memuaskan.

Baca juga:

Jual Action Figure Power Rangers MMPR Murah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s